Kisah Hidup Mongol: Pernah Jadi Gelandangan, Masuk Penjara Sampai Jadi Comic “Stand-up Comedy”

Published on Jan 13 2017 // berita tentang mongol stres, mongolstres.com

SUMBER : TABLOIDBINTANG.COM

DI jejaring sosial twitter, akun milik comedian Mongol (35) di-follow sekitar 85 ribu pengikut.

Pria yang punya nama asli Roni Immanuel ini juga dianggap sebagai pelaku komedi tunggal dengan honor paling mahal saat ini. Program Stand Up Comedy benar-benar mengubah hidup pria asal Manado ini. Kepada Bintang Mongol buka-bukan soal jalan hidupnya yang penuh liku.

Lahir dan tumbuh di kota Manado, pada tahun 1998 Mongol hijrah seorang diri ke Jakarta. Ia pergi ke ibukota menumpang kapal laut dengan lama perjalanan sekitar lima hari. Awalnya ia hendak menjadi seorang Pendeta. Namun ia justri ditipu oleh orang yang ingin menyekolahkannya ke sekolah pendeta.

“Orangnya kabur enggak tahu ke mana. Lalu saya harus bertahan hidup di Jakarta dengan modal uang hanya Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Malu pulang kampung, ia sempat menjadi gelandangan tanpa pekerjaan. Tidur di emperan toko di pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta. Itulah masa titik nadir Mongol. “Hidup saya waktu itu minus banget. Tapi harus tetap survive,” kenang pria bertubuh kekar ini. Nasibnya mulai membaik ketika ia mendapatkan pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, ia melakoni beberapa pekerjaan dalam satu hari. Pagi bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran padang di kawasan Menteng, siang berjualan koran dan malam hari bekerja di sebuah warung pecel lele.

Di penjara Karena Main Judi
“Gaji di restoran padang sekitar Rp 400 ribu, jualan koran Rp 200 ribu, kalau pelayan di warung pecel dapat sekitar Rp 200 ribu,” ujarnya. Sebagian dari penghasilan itu digunakan Mongol untuk menyewa sebuah kamar kos sederhana di Manggarai, Jakarta Selatan. Agar menghemat uang, setiap hari Mongol berjalan kaki dari kamar kosnya di Manggarai menuju Menteng.

Pekerjaan sebagai pelayan restoran Padang dan berjualan koran kemudian ditinggalkannya. Ia menjadi sales sebuah toko percetakan brosur di Pasar Baru. Bekerja sampai sore, malamnya ia menjadi pelayan di warung pecel. “Waktu kerja di percetakan sudah enggak jalan kaki lagi, saya sudah naik Kopaja pulang-pergi karena gajinya sudah lumayan,” imbuh Mongol.

Seorang teman kemudian menawarkan Mongol bekerja di sebuah manajemen artis. Tawaran itu tak ditampiknya. Pekerjaan sebagai sales merangkap pelayan warung lele ditinggalkannya. Di sana Mongol ditunjuk menjadi asisten dan manejer penyanyi Dirly “Idol” yang juga berasal dari Menado. “Ikut lama sama Dirly. Bahkan saya sempat ngurusin gosip dia (pacaran) dengan Agnes Monica,” tuturnya.

Bencana menimpa Mongol saat menjadi asisten Dirly. Lantaran iseng bermain judi kecil-kecilan, ia sempat di penjara selama sebulan di rutan Cipinang. Keluar penjara, ia dipecat Dirly. “Saya lalu bekerja di rutan. Tugas saya mendata napi-napi yang beragama Kristen dan mengatur acara keagamaan di Cipinang. Dibayar pakai ongkos pulang saja,” tegas dia.

Mencoba bangkit dari keterpurukan, bersama teman-temannya Mongol membentuk manejemen artis yang diberinama Survive. “Banyak yang bilang kalau narapidana itu enggak bisa kerja. Lewat Survive saya ingin membuktikan kalau anggapan itu salah,” akunya lantang. Dari manejemen itu pelan-pelan penggemar Srimulat ini merintis karier dalam dunia stand up comedy. Mengaku bukan tipikal pria yang memiliki sisi humor yang baik, Mongol tak sengaja terujun ke dunia komedi tunggal.

“Berawal ketika saya dikerjain teman di acara ulang tahun di Comedy Kafe. Ternyata ada orang TV yang menonton. Saya pun ditawari jadi comic,” jawab Mongol.

(han/adm)

Leave a comment

www.blogohblog.com